Berita Lainnya Meninjau Kembali Strategi Komunikasi Indonesia dalam Memperkuat Proyek Pariwisata

Meninjau Kembali Strategi Komunikasi Indonesia dalam Memperkuat Proyek Pariwisata

Bali telah dipuji menjadi tujuan wisata utama di dunia selama beberapa dekade. Berselancar di pantai Kuta, menikmati minuman buah tropis sambil menyaksikan matahari terbenam, dan menjelajahi desa-desa setempat adalah beberapa kegiatan favorit yang biasanya dilakukan wisatawan saat berkunjung ke Bali. Keindahan Pulau Bali dan budaya lokal yang dimilikinya bahkan telah berhasil membuat Bali untuk kedua kalinya menempati posisi pertama di TripAdvisor Travelers' Choice Award pada tahun 2021, setelah sebelumnya memenangkannya pada tahun 2017.

Keuntungan industri pariwisata membawa manfaat ekonomi bagi Indonesia. Pariwisata memegang peranan penting dalam kontribusi produk domestik bruto Indonesia, yaitu sekitar 4,3%. Namun, karena pandemi, kementerian pariwisata Indonesia menyatakan bahwa 75% kedatangan wisatawan asing telah menurun. Sebagai sarana untuk merevitalisasi industri pariwisata, pemerintah Indonesia meluncurkan kampanye "5 Bali baru" dalam menyediakan 5 destinasi wisata yang ditugaskan untuk menjadi Bali berikutnya. Kelima destinasi super prioritas tersebut adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Likupang di Sulawesi Utara.

Diplomasi Publik Sebagai Pendekatan "Dibuat Khusus"

Hans Tuch mendefinisikan diplomasi publik sebagai proses komunikasi pemerintah untuk terlibat dengan publik asing untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep dan prinsip, institusi, dan budaya negaranya, serta tujuan dan kebijakan nasional. Membentuk persepsi masyarakat internasional tentang potensi destinasi wisata di Indonesia, selain bertujuan untuk mempertahankan citra positif Indonesia, juga bertujuan untuk kepentingan nasional Indonesia lainnya, seperti pemulihan ekonomi dalam industri pariwisata yang tidak hanya berpusat di Bali.

Dalam praktiknya, tidak ada bentuk standar kegiatan diplomasi publik yang dilakukan oleh negara sebagai aktor internasional. Kita dapat memahami bahwa secara historis, pelaksanaan kegiatan diplomasi publik dilakukan secara fleksibel dan disesuaikan dengan sumber daya masing-masing negara. Dari segi pariwisata, Indonesia memiliki tiga sumber utama yang berpotensi menjadi alat pendukung dalam kegiatan diplomasi publik, nusantara yang indah, masakan populer Indonesia, dan budaya lokal. Melalui artikel ini, kami akan mencoba untuk meninjau kembali strategi komunikasi pemerintah Indonesia dari aspek diplomasi publik dalam upaya untuk mempromosikan proyek "5 Bali baru" kepada masyarakat internasional, terutama dalam momentum Kepresidenan G20 Indonesia.

Terdiri dari berbagai pulau tropis yang indah, Indonesia telah menyelenggarakan beberapa acara internasional. Kesempatan ini tentunya dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan agenda diplomasi publiknya dalam mempromosikan Proyek "5 Bali Baru" di panggung internasional. Misalnya, pada 2018 ketika Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan IMF-Bank Dunia, pemerintah Indonesia menawarkan beberapa paket wisata kepada delegasi pertemuan. Bayangkan saja, dengan jumlah peserta rapat yang mencapai 36.339 delegasi, Indonesia bisa mendapatkan "promosi gratis" jika para delegasi mengunggahnya ke media sosial mereka atau melalui kekuatan dari mulut ke mulut ketika para delegasi kembali ke negara masing-masing. Indonesia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk beriklan. Namun, karena saat itu pertemuan digelar di Bali, paket wisata yang paling diminati adalah Bali.

Untuk menghindari terulangnya kesalahan yang sama, Indonesia secara khusus menjadikan beberapa destinasi wisata super prioritas sebagai lokasi rangkaian pertemuan side event G20 agar tidak hanya terkonsentrasi di Bali. Hal ini dirancang agar destinasi-destinasi tersebut mendapatkan eksposur potensi wisata lokalnya. Budaya lokal adalah nilai utama dalam kepresidenan G20 Indonesia. Misalnya, pertemuan 1st Education Working Group (1st EdWG) yang diadakan di Yogyakarta. Di sela-sela pertemuan, para delegasi diundang ke salah satu ikon pariwisata Yogyakarta, yaitu keraton Yogyakarta untuk makan malam dengan 11 masakan tradisional. Selain itu, para delegasi juga diundang untuk merasakan upacara minum teh Pateha (Royal High Tea). Pada kesempatan lain, para delegasi Environment Deputi Meeting and Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) belajar "membatik", istilah lokal untuk melukis batik, kain tradisional Indonesia yang merupakan bagian dari Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.

Indonesia lahir di bawah bintang keberuntungan, karena pada tahun yang sama juga menjadi tuan rumah Grand Prix MotoGP yang diadakan di Sirkuit Mandalika, salah satu lokasi yang termasuk sebagai tujuan wisata super prioritas untuk proyek "5 Bali baru". Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif segera mengambil tindakan cepat dengan menginisiasi program bagi komunitas musik di Mandalika untuk tampil di ajang MotoGP. Program ini dikhususkan untuk komunitas musik dan seni lokal di Mandalika untuk menerima bantuan intensif dalam proses pembuatan karya seni. Berharap komunitas musik lokal ini bisa memberikan penampilan yang impresif ketika semua mata tertuju pada sirkuit mandalika karena MotoGP Grand Prix.

Pendekatan Diplomasi Publik yang Harus Dihindari: Strategi Hit and Run

Diplomasi publik memiliki esensi yang berbeda dari diplomasi tradisional. Sementara diplomasi tradisional terutama ditujukan untuk mencapai kesepakatan secara formal (pemerintah-ke-pemerintah), diplomasi publik bertujuan untuk meningkatkan kesadaran atau terlibat dengan masyarakat internasional. Inilah sebabnya mengapa diplomasi publik sering disebut "memainkan permainan panjang" karena untuk mendapatkan perhatian publik internasional secara mendalam, dibutuhkan daya tahan dan konsistensi. Kepresidenan G20 Indonesia menyediakan platform besar bagi Indonesia untuk memaksimalkan kegiatan diplomasi publik. Namun, Indonesia perlu memikirkan bagaimana mempromosikan proyek "5 Bali baru" setelah momentum G20. Kelestarian lingkungan dan membangun hubungan generik dapat menjadi dua nilai tambah dalam amplifikasi proyek "5 Bali baru".

Kelestarian lingkungan adalah kunci di era industri pariwisata modern. Menurut Survei Tren Perjalanan Berkelanjutan Agoda 2021, 26% responden menganggap pemerintah adalah yang paling bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan di industri pariwisata. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah Indonesia perlu menunjukkan kepedulian dan upayanya dalam menjaga lingkungan. Salah satu caranya dengan mempertimbangkan penggunaan energi terbarukan dalam membangun infrastruktur pariwisata. Semua plastik sekali pakai harus dilarang sepenuhnya. Isu konservasi satwa juga dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun citra pariwisata yang positif, salah satunya konservasi di Pulau Komodo. Hal ini menjadi tolok ukur penting yang dapat dipertimbangkan Indonesia, karena Komodo merupakan hewan yang hanya dapat ditemukan di Indonesia sehingga dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara. Apalagi Pulau Komodo hanya berjarak 2 jam dari Labuan Bajo yang masuk dalam proyek "5 Bali baru" destinasi pariwisata super prioritas.

Last but not least, pemerintah Indonesia perlu membangun hubungan yang lebih "generik" dengan publik internasional. Pemerintah harus bekerja sama dengan aktor non-pemerintah seperti influencer internasional terkenal untuk mempromosikan tujuan yang termasuk dalam proyek "5 Bali baru". Kolaborasi dengan influencer ini sangat penting dalam strategi promosi, karena akan mengarah pada kesadaran merek yang lebih tinggi karena banyaknya penggemar. Dengan influencer, promosi juga akan lebih efektif karena masyarakat tidak akan skeptis terhadap "iklan" dari proyek "5 Bali baru" ini dan mendorong keputusan untuk membeli paket pariwisata. Cara lain yang bisa digunakan adalah dengan mengadakan event internasional. Sukses gemilang bagi pemerintah Indonesia dengan MotoGP 2022. Ke depan, Indonesia harus bisa menggelar konser bekerja sama dengan artis internasional di destinasi pariwisata yang masuk dalam proyek "5 Bali baru". Berharap dengan dua nilai tambah ini, pemerintah Indonesia dapat terus memperkuat proyek pariwisata "Bali Baru" secara berkelanjutan, meskipun momentum G20 telah berakhir.

Sumber: https://moderndiplomacy.eu/