Berita / Detail

Berita Destinasi Detail

Eksplorasi Segudang Daya Tarik Desa Wisata Liya Togo Wakatobi

Eksplorasi Segudang Daya Tarik Desa Wisata Liya Togo Wakatobi

JAKARTA - Wakatobi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang jika mendengar namanya kebanyakan orang akan langsung terbayang dengan potret hamparan pantai dan pesona bawah laut yang indah. Padahal, wilayah ini juga memiliki kawasan wisata yang kaya akan nilai sejarah dan budaya, yakni Desa Wisata Liya Togo.

Berada di bagian pesisir selatan Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Desa Liya Togo menawarkan pesona kebudayaan dan memiliki berbagai situs peninggalan sejarah. Jika ingin berkunjung secara spesifik ke daerah ini, Anda perlu menempuh perjalanan berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Wanci, dan sekitar 8 km dari Bandara Matahora.

Benteng Liya Peninggalan Kerajaan Buton

Salah satu destinasi atau objek sejarah yang ada di Desa Wisata Liya Togo dapat dilihat lewat keberadaan Benteng Liya, yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Buton dan dikenal juga dengan nama Benteng Keraton.

Keunikan yang paling disorot dari Benteng Liya adalah bangunannya yang dibuat dari susunan batu gunung, yang kemudian direkatkan dengan kapur dan putih telur. Benteng ini memiliki luas mencapai 52 hektar dan terdiri dari 12 lawa atau pintu yang di masa lampau menjadi pintu keluar bagi masyarakat Kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar.

Dalam kawasan benteng tersebut, para wisatawan dapat melihat sebuah masjid tua bernama Masjid Mubarok yang dibangun pada tahun 1546. Tapi, masjid satu ini juga dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Masjid Keraton Liya.

Bukan hanya masjid, di kawasan desa juga ada baruga atau bangunan tradisional khas Sulawesi Selatan yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk bermusyawarah.

Jika menjelajah bangunan masjid, di bagian kirinya wisatawan akan melihat langsung area pemakaman yang cukup lebar dengan ciri khas berupa barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Selain itu, area disekitar malam dikelilingi pagar batu dan bunga kamboja.

Konon area pemakaman itu adalah tempat peristirahatan seorang pemuda bernama sakti Talo-Talo, yang diberikan daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, Talo-Talo dianggap berjasa dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sana.

Selain menjelajah jejak peninggalan sejarah Kerajaan Buton, pengunjung yang datang ke Desa Wisata Liya Togo juga bisa mendapatkan pengalaman baru dalam melihat kehidupan warga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, wisatawan juga dapat melihat proses budidaya rumput laut yang dilakukan masyarakat setempat.

Kebudayaan Desa Wisata Liya Togo

Bukan hanya memiliki daya tarik sejarah, Desa Wisata Liya Togo juga memiliki daya tarik dari segi seni dan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya hingga saat ini, yang mana salah satunya terlihat dari segi tarian tradisional yakni Honari Mosega, yang merupakan tari tradisional kebanggaan masyarakat Liya.

Biasanya saat ada kunjungan wisata, akan dibuat pertunjukan tarian Honari Mosega yang bercerita tentang semangat para prajurit yang akan berperang mengusir musuh dan juga ditampilkan sebagai lambang kegembiraan dalam menyambut para prajurit yang pulang dengan kemenangan.

Tarian yang sama dulunya juga sekaligus menjadi tarian pengintai musuh, dan diperkirakan sudah mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di Pulau Oroho.

Selain itu ada pula Posepaa, yakni atraksi saling tendang antara Yro Wawo dengan Yro Woru. Lebih jelas, Yro Wawo merupakan sebutan untuk masyarakat dari wilayah Timur lapangan Posepaa sedangkan Yro Woru adalah sebutan untuk masyarakat dari wilayah Barat. Di mana pada masa lalu, Posepaa merupakan ajang untuk menyeleksi calon prajurit sebelum ditugaskan ke medan perang.

Pernak-pernik dan Kuliner Khas

Tentu tidak lengkap rasanya mengenal atau mencari tahu sebuah daerah wisata jika belum membahas mengenai makanan tradisional atau pernak-pernik yang dapat dijadikan buah tangan.

Di Desa Wisata Liya Togo, terkenal produk kriya seperti kain tenun yang dijadikan sarung, selendang, tas, hingga ikat kepala. Kemudian ada pula kerajinan anyaman tikar, mengolah limbah jadi tas, dang katu bangko atau tudung saji yang umumnya dibuat oleh kalangan ibu-ibu.

Biasanya, ibu-ibu desa melakukan homoru atau kegiatan menenun di sela-sela kegiatan utama sebagai petani atau nelayan. Kain tenun yang dihasilkan umumnya juga sering disebut dengan nama wuray ledha. Biasanya untuk menyelesaikan sebuah kain sarung siap pakai, dibutuhkan waktu menenun hingga satu bulan.

Selain produk kriya, Desa Wisata Liya Togo juga terkenal dengan makanan tradisional seperti soami, yakni kudapan dari singkong dan parutan kelapa, sirup tangkulela atau yang umum kita kenal dengan sebutan belimbing wuluh, jus sampalu dari buah asam yang banyak ditemukan di sekitar benteng, keripik singkong, keripik ikan, dan lumpia abon ikan.

Tertarik untuk mengeksplor wisata sejarah dan budaya di Desa Liya Togo?

Sumber: https://validnews.id/