Lokasi Program Borobudur-Yogyakarta-Prambanan

RIPT (Rencana Induk Pariwisata Terpadu)

Pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan pariwisata sebagai sektor unggulan. Telah ditetapkan 10 (sepuluh) destinasi wisata prioritas – 10 Bali Baru – salah satunya adalah Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan. Untuk mengembangkan destinasi prioritas tersebut, disusun Rencana Induk Pariwisata Terpadu (RIPT). RIPT- Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan merupakan dokumen perencanaan untuk memandu koordinasi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan pariwisata Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan prinsip 10A kepariwisataan.

RIPT- Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan disusun melalui tahapan yang melibatkan para pemangku kepentingan untuk melakukan serangkaian analisis tentang kondisi dan tantangan pembangunan pariwisata di Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan.

 

Destinasi wisata Prioritas Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan mencakup 7 (tujuh) kecamatan yang berada di 3 (tiga) kabupaten dan 1 (satu) kota di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kecamatan Tempuran (Kab. Magelang), Kecamatan Mertoyudan (Kab. Magelang), Kecamatan Muntilan (Kab. Magelang), Kecamatan Borobudur (Kab. Magelang), Kecamatan Mungkid (Kab. Magelang), Kecamatan Prambanan (Kab. Sleman), Kecamatan Prambanan (Kab. Klaten) dan Kota Yogyakarta. Dari 7 (tujuh) kecamatan dan 1 (satu) Kota Yogyakarta tidak semua terpilih sebagai Key Tourism Area (KTA) untuk menjadi fokus pengembangan dalam 5 (lima) tahun pertama, adapun wilayah yang menjadi Key Tourism Area (KTA) Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan yaitu: Kecamatan Borobudur (Magelang), Kecamatan Mungkid (Magelang), Kecamatan Prambanan (Sleman), Kecamatan Prambanan (Klaten), Kecamatan Kraton (Yogyakarta), Kecamatan Gedongtengen (Yogyakarta), Kecamatan Danurejan (Yogyakarta), Kecamatan Ngampilan (Yogyakarta), Kecamatan Kotagede (Yogyakarta), Kecamatan Gondomanan (Yogyakarta).  Pengembangan ketiga KTA yang terdapat 10 kecamatan ini diharapkan menjadi pengungkit pengembangan pariwisata di Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan.

Permasalahan dan tantangan dalam pengembangan pariwisata di Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan antara lainproduk pariwisata yang ditawarkan terbatas, terlalu mengandalkan pariwisata budaya, overtourisme di kompleks Situs Warisan Dunia Borobudur, rendahnya apresiasi terhadap pelestarian nilai – nilai warisan budaya dan warisan ekonomi, terlalu mengandalkan pasar domestic, rendahnya standar international untuk daya Tarik dan interpretasi, akses yang buruk dalam hal volume kedatangan yang diharapkan, infrastruktur layanan yang tidak memadai, memburuknya kondisi lingkungan, termasuk polusi udara dan menipisnya air tanah, lemahnya kapasitas masyarakat local untuk memanfaatkan peluang ekonomi, sebagian melalui keterampilan dan kesenjangan pelatihan, kerangka kerja dan penegakan hokum yang lemah, dan koordinasi dan perencanaan yang tidak memadai.

Kawasan Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan akan dikembangkan dengan visi “Borobudur-Yogyakarta-Prambanan is the cultural and tourism Heart of Java, with diversified attractions and strengths that create a sustainable, resilient and world-class destination”. Visi ini adalah prinsip panduan untuk Borobudur Yogyakarta Prambanan untuk menjadi tujuan pariwisata kelas dunia, dikenal baik di pasar internasional maupun di Indonesia untuk budaya dan warisannya yang kaya dan unik termasuk di dalamnya Situs Warisan Dunia UNESCO Borobudur dan Prambanan, Kota Yogyakarta yang bersejarah, pemandangannya yang indah dan keramahan penduduknya.

Pada tahun 2045 berdasarkan scenario “Business as Usual” jumlah total kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan diproyeksikan sebesar 19,321,800 Jiwa, Sedangkan berdasarkan scenario “Best Case”   total kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara ke Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan diproyeksikan sebesar 23,584,990 Jiwa, meningkat dari 13,391,084 Jiwa di tahun 2018. Pertumbuhan ini diharapkan meningkatkan manfaat ekonomi dalam bentuk pendapatan sektor pariwisata sebesar USD 3,92 juta pada scenario business as usual dan USD 5,468 juta pada scenario base case serta lapangan kerja sejumlah 256,351 pada scenario business as usual  dan 411,573 pada scenario base case di tahun 2045.

Strategi pengembangan pariwisata  secara garis besar terdapat tiga Opsi Pertumbuhan yang menawarkan pendekatan berbeda untuk pengembangan pariwisata di BYP dan Joglosemar. Ketiga scenario tersebut adalah: pertama scenario “Concentrated’ (Terpusat) yang menawarkan  sebuah strategi untuk melanjutkan sebagian besar produk pariwisata yang sudah ada. Peningkatan dalam bidang transportasi akan dilakukan, dan akan ada beberapa intervensi investasi yang berhubungan dengan pariwisata khususnya berlokasi di atau dekat dengan atraksi inti. Pada opsi ini Yogyakarta akan tetap menjadi destinasi pariwisata yang dominan di kawasan BYP dengan jumlah sub-center yang terbatas, terutama YIA, KTA Borobudur, KTA Prambanan dan Pantai Selatan DIY. Kedua scenario “Dispersed” (Tersebar) untuk membentuk sebuah mesin pariwisata yang lebih seimbang untuk kawasan yang lebih luas, berfokus terutama pada DI Yogyakarta dan bagian tengah sampai selatan dari Jawa Tengah. Peningkatan infrastruktur akan dilakukan, dan diversifikasi produk yang terbatas akan menumbuhkan kelompok atraksi pengunjung tambahan di sekitar atraksi wisata utama, bermain dengan kekuatan dari sumber kebudayaan yang sudah ada. Ketiga scenario “Deconcentrated” (Penyebaran Merata) yang mengusulkan bahwa BYP harus membentuk sebuah inti untuk produk ‘Pariwisata Jawa’ yang jauh lebih luas. scenario ini akan lebih fokus untuk kawasan yang lebih luas dari Joglosemar, termasuk di dalamnya Solo/Sangiran, Merapi/Merbabu, Wonosari/Gunung Sewu, Ambarawa/Salatiga, Dataran Tinggi Dieng, Semarang, Karimunjawa sebagai pendamping bagi Borobudur, Prambanan, pantai-pantai di DIY, dan YIA Aeropolis.

Arah kebijakan dan strategi pengembangan pariwisata Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan adalah:

  1. Keberlanjutan, terutama manajemen sumber daya lingkungan, budaya dan sosial yang sehat
  2. Memaksimalkan dan menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata ke semua tingkatan di masyarakat dan tingkat pemerintahan
  3. Diversifikasi penawaran produk wisata
  4. Pemahaman dan respons pasar
  5. Ketangguhan, terutama fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi untuk merespons kekuatan pasar yang terus berubah
  6. Penguatan kelembagaan 
  7. Rasionalisasi institusi dan legislasi
  8. Pengembangan Kluster pariwisata di ketiga KTA BYP sebagai mesin pertumbuhan untuk kawasan yang lebih luas
  9. Perbaikan jangka pendek dari infrastruktur dan atraksi BYP
  10. Ekspansi pariwisata jangka menengah ke Joglosemar
  11. Pengembangan jangka panjang Pariwisata Jawa 
  12. Pemantauan dan Peninjauan.

 Melalui kebijakan, strategi, dan rencana aksi dalam RIPT, Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan diproyeksikan menjadi tujuan wisata berkelas dunia yang memberikan dampak bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.


No. Title File Category Download